<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ade's Blog</title>
	<atom:link href="http://alpha_delta.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com</link>
	<description>Just another Friendster Blogs weblog</description>
	<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 16:26:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kopi&#8230;</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2009/01/kopi/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2009/01/kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 16:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Pekalongan-Jakarta memang sebuah jarak tempuh yang lumayan lama jika dilalui dengan jalan darat. Apa boleh buat, setiap dua minggu sekali kulalui jalur itu untuk berangkat ke tempat kerja dan pulang ke rumah.
Kereta menjadi pilihanku untuk melalui jalur itu. Walau terasa tak adil, karena tiket Jakarta-Pekalongan kadang sama dengan tiket Jakarta-Semarang, bahkan Jakarta-Surabaya. Entah rumus matematika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekalongan-Jakarta memang sebuah jarak tempuh yang lumayan lama jika dilalui dengan jalan darat. Apa boleh buat, setiap dua minggu sekali kulalui jalur itu untuk berangkat ke tempat kerja dan pulang ke rumah.</p>
<p>Kereta menjadi pilihanku untuk melalui jalur itu. Walau terasa tak adil, karena tiket Jakarta-Pekalongan kadang sama dengan tiket Jakarta-Semarang, bahkan Jakarta-Surabaya. Entah rumus matematika mana yang dipakai, rupiah per jarak&#8230;? Memang matematika yang aneh.</p>
<p>Kalau jadualnya tepat, mungkin asyik-asyik aja walau tiketnya sama (negasi) murahnya dengan jarak Jakarta-Surabaya. Beberapa kali kereta yang kutumpangi berangkat (negasi) tepat waktu. kadang molor 10 menit, kadang 20 menit, kadang 30 menit, bahkan pernah sampai 1 jam alias 60 menit, huh&#8230;.</p>
<p>Seperti yang kualami tadi sore, di jadual, kereta berangkat dari Pekalongan ke Jakarta pukul 14:05, artinya lima menit setelah pukul empat belas. tapi apa yang terjadi, kereta berngakat dari stasiun Pekalongan pukul 14:55, alias lima puluh menit setelah pukul empat belas, atau (negasi) tepat waktu selama 50 menit atau 0,83333333 jam atau 3000 menit. huh (lagi).</p>
<p>Setelah di dalam kereta, aku mencoba memejamkan mata, tapi nggak bisa karena berisik, mengapa berisik, selidik punya selidik, pintu penghubung antar gerbong tidak bisa menutup dengan sempurna, akibatnya suara gesekan rel dengan roda kereta membuat gaduh ruangan di dalam gerbong, sehingga membuat keadaan (negasi) nyaman. Huh (lagi)</p>
<p>Selepas statium Cirebon, aku memesan kopi kepada pramusaji yang hilir mudik di dalam gerbong. 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 3o menit, sampai 45 menit, tidak kunjung juga datang itu kopi pesananku, beberapa saat setelah 45 menit sejak aku memesan kopi, datanglah pramusaji tadi sambil bilang &#8220;Kopi ya mas..? Jadi lima ribu rupiah&#8230;!&#8221; Aku bingung bukan kepalang karena aku ditagih harus membayar kopi yang berlum pernah kuminum, bahkan belum pernah kulihat sekalipun&#8230; Sambil tertawa geli dan kesal, aku bilang &#8220;Mbak, kopinya aja belum datang, koq sudah ditagih&#8230;.&#8221; Eh&#8230; pramusaji tadi bilang, &#8220;Oh.. kalo gitu nanti saja bayarnya Mas&#8230;&#8221;  hehehehehe&#8230;. bukannya ngurusin dipercepat tuh kopi biar cepat datang&#8230; dia malah ngotot ngurusin bayarnya nanti aja&#8230; Huh (lagi).</p>
<p>Sampai kereta melewat stasiun bekasi.. itu kopi tidak kunjung datang, bahkan sampai aku turun di stasiun jatinegara&#8230; huh (lagi)&#8230;</p>
<p>Itulah potret pelayanan fasilitas publik yang (negasi) murah.. dengan pelayanan yang (negasi) memuaskan&#8230;</p>
<p>Haruskah ada kereta api swasta, atau taksi di atas rel.. atau&#8230; atau&#8230; atau&#8230;</p>
<p>hanya &#8220;atau&#8230;.&#8221; tanpa &#8220;yaitu&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2009/01/kopi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sabuk pengaman</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2008/02/sabuk-pengaman/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2008/02/sabuk-pengaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 11:58:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2008/02/sabuk-pengaman/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini ada sebuah kisah nyata, nama-nama tokoh dalam cerita ini disamarkan demi kredibilitas yang bersangkutan:</p>
<p>Suatu hari Joni pergi berkendaraan dengan keluarganya, dengan menggunakan mobil kesayangannya. Semua perlengkapan sudah dia siapkan, seperti STNK, SIM dan kelengkapan mobil lainnya, termasuk tidak lupa dia memakai sabuk pengaman. </p>
<p>Joni memakai sabuk pengaman bukan karena takut ditilang sama pak polisi, tapi, dia sudah terdidik di tempatnya bekerja untuk memakai perlengkapan pengaman/keselamatan kerja, termasuk dalam hal berkendaraan, dia memakai sabuk pengaman bukan karena takut ditilang pak polisi, tapi karena dia sadar, betapa pentingnya sabuk pengaman demi mengurangi resiko apabila terjadi hal2 yang tidak diinginkan.</p>
<p>Sebelum berangkat, Joni memeriksa apakah mertuanya yang duduk di sebelah kiri depan sudah memakai sabuk pengaman atau belum. Setelah yakin, diapun menjalankan kendaraannya secara perlahan di jalan yang lumayan mulus, namun kadang2 ada jalan berlobang yang timbul karena hujan berkelanjutan dan dilindas oleh truk-truk besar yang berlalu lalang di jalanan.</p>
<p>Di suatu tempat, banyak polisi yang sedang melakukan pemeriksaan (atau razia istilahnya ya&#8230;..????). Istri Joni melihat polisi tersebut, kemudian dia meminta ayahnya (yang berarti mertuanya Joni) untuk memeriksa apakah dia sudah mengenakan sabuk pengaman atau belum. Mertua Joni pun memegang sabuk pengaman tersebut, dan dia yakin kalo sabuk pengamannya sudah dia kenakan, diapun lega.</p>
<p>Tapi, di luar, pak polisi yang mengenakan seragam yang masih baru, memerintahkan agar mobil dipinggirkan, Joni pun menghentikan mobilnya dipinggir jalan tanpa perasaan berdosa, dan memang dia tidak melakukan kesalahan dalam berkendaraan.</p>
<p>Dengan tampang dinasnya, pak polisipun menegur, tapi mukanya menghadap ke arah lain, bukan ke matanya Joni. &quot;Selamat pagi, Mas!&quot;. Joni pun menimpali teguran tersebut &quot;Selamat pagi juga Mas Polisi!&quot; Kenapa Joni memanggil &quot;Mas&quot; kepada pak polisi tersebut???? Joni hanya ingin berbuat sepadan, kalo dia dipanggil &quot;Mas&quot; oleh seorang petugas saat sedang bertugas, dia juga menimpali dengan predikat yang sama donk&#8230;</p>
<p>Tanpa mengeluarkan sepatah katapun lagi, bagai sudah tradisi, Jonipun menyerahkan SIM dan STNK mobilnya. Pak polisi yang berseragam masih barupun menerimanya dengan mukanya masih dipalingkan ke arah lain, (lagi jaim kali ya&#8230;)</p>
<p>Kemudian pak polisi tersebut meminta Joni untuk turun, Joni penasaran, kenapa dia diminta turun, padahal dia merasa tidak melakukan pelanggaran sedikitpun. Jonipun bertanya, &quot;kenapa emang Pa?&quot; Pak polisipun menjawab &quot;Ikut saja&#8230;!&quot; dengan tampang yang masih tampang dinas. Joni jadi kesal, diapun turun dari mobil, kemudian mengikuti polisi yang memakai seragam baru tadi.</p>
<p>Sekitar 10 meteran dari tempat Joni memarkirkan mobilnya, di sana ada sebuah mobil patroli polisi, di bagian belakannya ada pak polisi yang lainnya yang sedang mengurusi &quot;client&quot; lain, dengan memakai trunk mobil bagian belakang. Kemduian polisi yang memakai seragam baru tadi menyerahkan SIM dan STNK Joni kepada polisi yang memakai seragam yang kelihatannya sudah lama belum diganti, sambil ngomong: &quot;Sabuk sebelah kiri&quot; katanya. Jonipun baru sadar, kalo dia dituduh melangar peraturan, bahwa penumpang yang duduk di sebelah kiri depan dari mobilnya dituduh polisi tidak mengenakan sabuk pengaman.</p>
<p>Jonipun protes kepada polisi yang satunya tadi, &quot;Pak, mertua saya tadi pake sabuk pengaman, kenapa mesti ditilang pak?&quot; Polisi itupun menjawab: &quot;Pak, mata kami banyak, kami memonitor semua pengendara dengan beberapa petugas yang kami sebar&quot; celotehnya. &quot;Terus informasi tadi diteruskan kepada kami, tadi anggota kami melihat penumpang kiri depan Bapak tidak mengenakan sabuk pengaman&quot; tambahnya lagi. Jonipun kesal, karena dia merasa tidak melanggar. </p>
<p>&quot;Demi Allah Pak, mertua saya tadi mengenakan sabuk pengaman&quot; kata Joni. &quot;Mau sidang di pengadilan atau titip sidang?&quot; tanya polisi, tanpa memperdulikan Joni yang protes. </p>
<p>Joni pun diam sejenak, dia sadar bahwa dalam urusan ini, dia pada posisi yang salah. &quot;OK pak, saya titip sidang saja, daripada saya harus diadili untuk pelanggaran yang tidak saya lakukan&quot; tandas Joni. Polisi tadipun mengernyitkan alisnya sambil bertanya &quot;Apa kata Anda tadi&quot;. Jonipun menimpal dengan malas, &quot;ya udah lah pak, saya titip sidang aja&quot;&#8230; &quot;NGgak, tadi Anda bilang apa??&quot; polisi itupun mengulang pertanyaannya dengan nada kesal.</p>
<p>Akhirnya Joni tambah kesel. &quot;Pak, ini saya hanya mau ngomong aja, terserah mau didengar atau tidak, itu bukan urusan saya, saya hanya merasa tidak puas aja dengan tindakan Bapak, yang menuduh saya tanpa ada bukti yang nyata, hanya karena praduga, sayapun tidak ada kuasa untuk menyangkal. Memang kalo berurusan seperti ini, saya nggak mungkin bisa menyelesaikan seperti kemauan saya.&quot; Tandas Joni dengan matanya memandang mata polisi tadi.</p>
<p>Pak polisi tadi yang sudah memegang uang 50 ribu rupiah dari joni, mengembalikan uangnya kepada joni, kemudian sambil menyerahkan semua berkas &quot;titip tilang&quot; yang sudah ditandatangani Joni, polisi itupun berkata: &quot;Kalo Bapak tidak puas, sialakan Bapak hubungi komandan saya&quot; kata pak polisi tadi&nbsp; sambil menunjuk kepada seorang opsir Pak polisi dengan seragam yang lebih mentereng dan dengan atribut yang lebih lengkap menghiasi seragamnya yang kelihatan masih baru.</p>
<p>Jonipun menurut, dia </p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2008/02/sabuk-pengaman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Living the life</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/11/living-the-life/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/11/living-the-life/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 12:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/11/living-the-life/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang merasa telah hidup sejak mereka merasakan kehidupan. Tapi apakah sesederhana itukah arti sebuah kehidupan? Secara biologis mungkin benar, sejak terlahir ke dunia, mungkin kita sudah merasa hidup. Walau dalam kenyataannya, kita tidak tahu secara persis mulai kapan kita merasakan hidup atau kehidupan. Saya rasa, tidak seorangpun ingat, kapan kita merasakan nikmatnya kehidupan ini. Yang kita ketahui adalah hanya &quot;katanya&quot;. Kata secarik kertas yang disebut dengan <em>akte kelahiran. </em>Atau kata orangtua kita, kata kakak kita, kata saudara kita, atau kata siapaun yang melihat atau mengetahui kelahiran kita. Betulkah demikian? Coba kita berfikir sejenak, merenung, untuk mengingat, sejak kapan kita ingat hiruk pikuk dunia ini, yang secara sederhana didefinisikan dengan kata &quot;<em>hidup</em>&quot; oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Kehidupan ini hanyalah pemberian-Nya, yang merupakan konsekuensi dari keterciptaan kita ke dunia ini oleh Sang Kholik, Sang Maha Pencipta, yang telah menciptakan kita, para manusia yang ditugasi sebagai penghuni dunia, dan kemudian akan menghuni dunia setelahnya. Kita tidak bisa memilih, kenapa kulit saya hitam, koq tidak putih? Kenapa saya lahir di Indonesia, kenapa tidak di negara lain? Namanya juga pemberian&#8230; tidak bisa menawar&#8230;</p>
<p>Yang diberikan-Nya hanyalah sebuah pilihan, antara perintah dan larangan. Bahkan sampai diberi seorang insan sebagai contohnya, dan diberikan sebuah &quot;<em>instruction manual book</em>&quot; (baca: panduan) tentang kehidupan ini. Tentang bagaimana cara hidup, tentang bagaimana kehidupan.</p>
<p>Saya belum cukup ilmu, atau bahkan mungkin tidak cukup ilmu untuk menuliskan ini. Tidak bermaksud apapun, hanya menekan tombol-tombol huruf yang berjejer di sebuah papan ketik, yang terbaca oleh sistem komputer, kemudian menjadikannya sebuah rentetan kata-kata yang sedang Anda baca saat ini.</p>
<p>Hidup adalah proses. Kita menjalaninya. Tinggal kita mau menjalaninya seperti apa&#8230; Hasil dari kehidupan ini tidak kita ketahui, hanya Dia yang mengetahuinya. Kita hanya diberi sebuah panduan untuk menjalaninya.</p>
<p>Sekali lagi, ini hanya sebuah celoteh hati&#8230;</p>
<p><strong><em>To be continued&#8230;</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/11/living-the-life/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Instrumentation</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/02/instrumentation/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/02/instrumentation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 03:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/02/instrumentation/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 class="firstHeading"><span style="font-size: 0.8em">As an instrument technician, here I provide you, my blog readers, what the instrumentation is&#8230;</span></h1>
<h1 class="firstHeading"><span style="font-size: 1.2em">Instrumentation</span></h1>
<div id="bodyContent">
<h3>[From Wikipedia]</h3>
<div id="contentSub"></div>
<div id="jump-to-nav"><strong>Instrumentation</strong> is defined as &quot;the art and science of <a title="Measurement" href="/wiki/Measurement">measurement</a> and control&quot;. Instrumentation can be used to refer to the field in which Instrument technicians and engineers work, or it can refer to the available methods of measurement and control and the instruments which facilitate this.</div>
<table class="toc" id="toc" summary="Contents">
<tbody>
<tr>
<td>
<div id="toctitle">
<h2></h2>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a id="Measurement" name="Measurement"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Measurement</span></h2>
<p>Instruments are devices which are used to measure attributes of physical systems. The variable measured can include practically any measurable variable related to the physical sciences. These variables commonly include:</p>
<ul>
<li><a title="Pressure" href="/wiki/Pressure">pressure</a> </li>
<li><a title="Rate of fluid flow" href="/wiki/Rate_of_fluid_flow">flow</a> </li>
<li><a title="Temperature" href="/wiki/Temperature">temperature</a> </li>
<li><a title="Level" href="/wiki/Level">level</a> </li>
<li><a title="Density" href="/wiki/Density">density</a> </li>
<li><a title="Viscosity" href="/wiki/Viscosity">viscosity</a> </li>
<li><a title="Radiation" href="/wiki/Radiation">radiation</a> </li>
<li><a title="Current (electricity)" href="/wiki/Current_(electricity)">current</a> </li>
<li><a title="Voltage" href="/wiki/Voltage">voltage</a> </li>
<li><a title="Inductance" href="/wiki/Inductance">inductance</a> </li>
<li><a title="Capacitance" href="/wiki/Capacitance">capacitance</a> </li>
<li><a title="Frequency" href="/wiki/Frequency">frequency</a> </li>
<li>chemical composition </li>
<li>chemical properties </li>
<li>various physical properties </li>
<li>etc. </li>
</ul>
<p>Instruments can often be viewed in terms of a simple input-output device. For example, if we &quot;input&quot; some temperature into a <a title="Thermocouple" href="/wiki/Thermocouple">thermocouple</a>, it &quot;outputs&quot; some sort of signal. (Which can later be translated into data.) In the case of this <a title="Thermocouple" href="/wiki/Thermocouple">thermocouple</a>, it will &quot;output&quot; a signal in millivolts.</p>
<p><a title="SCADA" href="/wiki/SCADA">SCADA</a> is the term used to denote large-scale, distributed measurement systems.</p>
<p><a id="Output" name="Output"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Output</span></h2>
<p>Instruments communicate with some sort of signal, often adhering to a <a title="Standardization" href="/wiki/Standardization">standard</a>. This signal may be defined by standards associations, or it may be a <a title="Proprietary" href="/wiki/Proprietary">proprietary</a> standard. Some standards include:</p>
<ul>
<li><a title="Analog (signal)" href="/wiki/Analog_(signal)">Analog</a>
<ul>
<li><a title="Pneumatics" href="/wiki/Pneumatics">Pneumatics</a> (Signal lines/tubes)
<ul>
<li>3-15 PSI </li>
<li>20-100 kPa </li>
<li>6-30 PSI </li>
</ul>
</li>
<li><a title="Voltage" href="/wiki/Voltage">voltage</a>
<ul>
<li>1-5 V </li>
<li>0-5 V </li>
<li>0-10 V </li>
</ul>
</li>
<li><a title="Current (electricity)" href="/wiki/Current_(electricity)">Current</a>
<ul>
<li><a title="4-20 mA" href="/wiki/4-20_mA">4-20 mA</a> </li>
<li>8-40 mA </li>
<li>10-50 mA </li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li><a title="Digital" href="/wiki/Digital">Digital</a>
<ul>
<li>HART <a title="Protocol (computing)" href="/wiki/Protocol_(computing)">Protocol</a> </li>
<li>SMART <a title="Protocol (computing)" href="/wiki/Protocol_(computing)">Protocol</a> </li>
<li><a title="Fieldbus" href="/wiki/Fieldbus">Fieldbus</a> </li>
<li><a title="Modbus" href="/wiki/Modbus">Modbus</a> </li>
<li><a title="Profibus" href="/wiki/Profibus">Profibus</a> </li>
<li>Industrial <a title="Ethernet" href="/wiki/Ethernet">Ethernet</a> </li>
<li>Various </li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><a id="Control" name="Control"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Control</span></h2>
<p>These devices are used to provide an input to a process controller, which may either take the form of a <a title="PID controller" href="/wiki/PID_controller">PID controller</a> or <a title="Programmable Logic Controller" href="/wiki/Programmable_Logic_Controller">Programmable Logic Controller</a>. These devices perform a decision based upon their own configuration and the input, also known as the <a title="Process variable" href="/wiki/Process_variable">process variable</a>, and output a desired response.</p>
<p><a id="Instrumentation_Engineering" name="Instrumentation_Engineering"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Instrumentation Engineering</span></h2>
<p><strong>Instrumentation Engineering</strong> is the engineering specialization focused on the design and configuration and automated systems.</p>
<p>Instrument engineers usually have degrees in <a title="Instrumentation engineering" href="/wiki/Instrumentation_engineering">instrumentation engineering</a>, <a title="Chemical engineering" href="/wiki/Chemical_engineering">chemical engineering</a>, <a title="Electrical engineering" href="/wiki/Electrical_engineering">electrical engineering</a>, or <a title="Mechanical engineering" href="/wiki/Mechanical_engineering">mechanical engineering</a> and sometimes in the newer field of <a title="Control engineering" href="/wiki/Control_engineering">Control engineering</a>/<a title="Control systems engineering" href="/wiki/Control_systems_engineering">control systems engineering</a>, <a title="Engineering physics" href="/wiki/Engineering_physics">engineering physics</a>, and [industrial physics]. They typically work for industries with <a title="Automated" href="/wiki/Automated">automated</a> processes, such as chemical or <a title="Manufacturing" href="/wiki/Manufacturing">manufacturing</a> plants, with the goal of improving system <a title="Productivity" href="/wiki/Productivity">productivity</a>, reliability,safety, optimization and stability.</p>
<p><a id="Instrumentation_technologists_and_mechanics" name="Instrumentation_technologists_and_mechanics"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Instrumentation technologists and mechanics</span></h2>
<p>Instrumentation technologists, technicians and mechanics specialize in troubleshooting and repairing instruments and instrumentation systems. Installation, on the other hand, is normally performed by industrial electricians. This trade is so intertwined with electricians, pipefitters, power engineers, and engineering companies, that one can find him/herself in extremely diverse working situations.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/02/instrumentation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Buah labu dan buah beringin</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/01/buah-labu-dan-buah-beringin/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/01/buah-labu-dan-buah-beringin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 00:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/01/buah-labu-dan-buah-beringin/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang lelaki sedang berteduh di bawah pohon beringin yang sedang berbuah dan dibawahnya tumbuh pohon labu yang sedang berbuah.</p>
<p>Sambil memperhatikan pohon labu dan pohon beringin yang keduanya sedang berbuah tersebut, lelaki tersebut bicara sendiri. &quot;<span style="color: #6600ff">Allah tidak adil, gimana bisa pohon beringin yang menjulang tinggi dengan batangnya yang kokoh buahnya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari sebuah kelereng. Sedangkan pohon labu yang batangnya lunak dan kecil diberikan buah yang begitu besar, bahkan pohonnya-pun tidak sanggup menyangganya&#8230; Allah tidak adil&#8230;</span>&quot; Gumamnya&#8230;</p>
<p>Sesaat kemudian, ada sebutir buah beringin yang jatuh tepat menimpa kepalanya. Kemudian secara spontan dia bicara sendiri. &quot;<span style="color: #3300cc">Allah memang adil, coba kalau pohon beringin memiliki buah sebesar buah labu&#8230; hhmmm&#8230;.&quot;</span></p>
<p>Makanya&#8230; jangan menghakimi sesuatu tanpa penelaahan yang dalam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2007/01/buah-labu-dan-buah-beringin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Winning&#8230;</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/winning/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/winning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 09:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/winning/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Have you ever dreamed about yourself to be a winner of a competition? I&#8217;m sure you have. But how many percent from all of the competition you have ever won? You might be have none&#8230; Yeah None&#8230; </p>
<p>Trying to achieve something beyond your limit will only lead you into the corner. You will always be a looser, a big looser&#8230; </p>
<p>Have you ever tried competing with yourself? yeah, you make your own championship, you make your own rule, you make your own start line, you make your own finish line, you judge yourslef, you funish yourself, you promote yourself&#8230; you consider your self, and you are the champion of your own championship. You are a winner of your own competition. Who cares? Well, that&#8217;s only you care of yourself. </p>
<p>Do you get my point?</p>
<p>I hope so&#8230; life is all about win and loose, that&#8217;s for most people. But not for me, not this time. </p>
<p>Result is not the only target to me. I get something that money can&#8217;t buy in the process. You&#8217;ll learn something in the process, not in the result. Result, if you can&#8217;t keep and maintain it, will only make you walk at the same spot all the time. You spend a lot of energy to walk, but you actually don&#8217;t move. You stay relativelly to the others.</p>
<p>If you get something BAD in the result, let track it back, look at the process. Do you get something from the process? How do you know if you don&#8217;t get the point you&#8217;re dreaming about in the result? There must be a learning process in the way you are achieving you result.</p>
<p>Most people work only for money, and for me, money is not the only point. There is something enjoyable in the process&#8230;</p>
<p>Try it!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/winning/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Who</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/who/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/who/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Dec 2006 23:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/who/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Is there someone or something forming your quality of life? I don&#8217;t think so.</p>
<p>I have had a problem, a real terrile problem, the problem that have made my self nearly shutdown. Yeah, SHUTING MY SELF DOWN, just like your computer. You will shut it down when you don&#8217;t need it anymore. Wasting electrical energy if you continue to let the computer running if you don&#8217;t use it. But after all, I get my curing from inside of my self, almost 80%. I know there is somebody&#8217;s interferences to get it resolved. </p>
<p>Back to the quality of life. There is no body forming your life, that is only YOU. You determine the standard, you achieve your standard. And it&#8217;s DONE. You&#8217;ve got your life. Is that simple? Yeah, simple&#8230;</p>
<p>Interferences from the other only lead you into two options. Good if you have positive one. But terrible if you get the negative one.</p>
<p>So&#8230; make your own standard, make your own way and get your own quality&#8230; But don&#8217;t forget, there is a border to maintain your standar in the line&#8230; yeah a good line&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/12/who/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Benci&#8230;!!!</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/benci/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/benci/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Nov 2006 03:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/benci/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba-tiba, seseorang membenci dirinya sendiri, entah apa gerangan yang membuatnya begitu&#8230; yang kutahu, manusia memang begitu. Kadang dia suka, cinta, acuh, benci bahkan sangat benci pada manusia lain. Bahkan pada dirinya sendiri. Yang aneh, entah mengapa, manusia bisa mencinta manusia lainnya. tapi dia benci diri sendiri. Ya&#8230; memang aneh. Itulah manusia. A creature with thousands of unpredictable things&#8230;</p>
<p>Tapi yang kutahu, jawabnya kudapat, manusia adalah makhluk lemah. Makhluk yang tak bisa hidup tanpa manusia lain. Manusia tiada bisa melakukan apapun sendiri. Bahkan hanya sekedar untuk bernafas. Karena manusia memang tak memiliki apapun, bahkan desiran darah dalam tubuhnya pun bukan milik dia, helaan nafasnya bukan milik dia, detaknya jantung bukan milik dia. Semuanya milik DIA, Sang Maha Pemilik.</p>
<p>Lantas, pantaskah manusia membenci dirinya sendiri, bahkan membenci manusia lain&#8230; Tidak, kalau manusia itu tahu bahwa dirinya adalah manusia, maka manusia itu tidak pantas sedikitpun untuk membenci manusia lain&#8230; Karena Sang Pencipta manusia tidak pernah menciptakan benci. Tidak pernah..?? Lantas mengapa ada benci di dunia ini?? Ya,,, benci tidak pernah tercipta, benci sejatinya adalah ketiadaan cinta. jika manusia memenuhi jiwanya dengan cinta, maka dia akan alpa akan benci. </p>
<blockquote><p>Jangan tanya mengapa&#8230; karena tanya itu kan kaburkan makna&#8230; Cobalah untuk ungkap &quot;apa&quot;, &quot;siapa&quot; &quot;untuk apa&quot;, &quot;dimana&quot;, &quot;kapan&quot; dan tanya lain asal jangan &quot;mengapa&quot;</p>
<p>&quot;Mengapa&quot; bisa undang sejuta cerita, &quot;mengapa&quot; akan mencabang kisah. karena &quot;mengapa&quot; bukanlah tanya. &quot;Mengapa&quot; adalah bahan mentah yang bisa dijadikan apapun.. Terserah&#8230; siapa sang pelakon&#8230;</p>
</blockquote>
<p>Benci diri sendiri karena tak suka akan diri. Mengapa demikian? sekali lagi, jangan tanya mengapa! dia benci karena tidak suka diri sendiri, tidak terima akan dirinya, entah fisik atau lakunya yang keluar dari angannya dia. Perasaan bersalah bisa buat manusia benci dirinya sendiri. Merasa menjadi makhluk yang pernah membuat manusia lain masuk ke dalam masalah, bisa membuat manusia membenci dirinya sendiri&#8230;</p>
<p>Jangan pernah memvonis diri sendiri. Vonis yang keluar dari makhluk yang terlibat akan tendensius. Ke arah mana..? Ke arah yang dia suka. Ya, ke arah yang dia kehendaki&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/benci/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Never ending story&#8230;</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/never-ending-story/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/never-ending-story/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Nov 2006 10:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/never-ending-story/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keduanya bertemu, entah apa yang membuatnya bertemu. Apakah sebuah kebetulan? Apakah memang seharusnya bertemu? Apakah setiap pertemuan harus selalu ada perpisahan. Jangan! Jangan berfikir untuk berpisah. Karena perpisahan akan menimbulkan pertemuan (lagi). Perpisahan akan menimbulkan tanya, mengapa harus bertemu kalau harus berpisah.</p>
<p>Tapi, belum juga gores lama sembuh, anak manusia sudah mengarang cerita untuk membentang layar baru. Tapi, begitulah seharusnya, asal jangan ada gores kedua pada goresan lama. Biar ada gores baru, asal tidak mengulang gores kedua. Karena tiada layar tanpa gores. Layar tiada indah tanpa goresan. </p>
<p>Biarlah gores lama mengering, sebagai guru agar tidak terulang. Bukalah, bentanglah layar baru agar bisa dibuat goresan nan indah. Jangan goresan yang kusam, yang akan membuat sang layar redup, bahkan ambruk, sampai busuk!!!</p>
<p>Buatlah gores indah, karena gores harmonis akan bangkitkan rasa, entah rasa apa. Cuma indra yang tahu&#8230;</p>
<p>Biarlah layar itu terbentang dihadapankku, karena aku memang butuh layar, agar kudapat goreskan liku hidup. Asal jangan kurasa gores lama, karena gores pertama timbulkan luka, gores kedua timbulkan duka!</p>
<p>Biarlah luka kurasa, asal jangan gores kedua yang bangkitkan duka&#8230; Ku tak siap gores kedua pada gores pertama, ku tak mampu tahan duka, biarlah luka saja yang kurasa&#8230;</p>
<p>Kini jawab kudapat, mengapa kedua anak manusia itu bertemu&#8230; Karena keduanya perlu gores pada layar terbentang yang mereka buat&#8230;</p>
<p>Let the story rolling, coz this is a never ending story&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/never-ending-story/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan&#8230;</title>
		<link>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/jalan/</link>
		<comments>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Nov 2006 09:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpha-delta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/jalan/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah yang kita kejar adalah kenikmatan? Lalu kenikmatan yang seperti apa yang kita cari? Atau mungkin kenikmatan terlalu duniawi dan ragawi&#8230; Bagaimana kalau yang sedang kita cari adalah kebahagiaan? Oh.. mungkin kebahagiaan terlalu sulit untuk dicapai. Bagaimana dengan ketentraman&#8230;?? Itukah yang kita cari sekarang ini? Atau ketentraman terlalu jauh untuk digapai..??</p>
<p>Huh&#8230; hidup memang aneh. Bagi sebagian orang, kehidupan adalah melewati sesuatu. Lalu apakah yang sudah, sedang dan akan kita lewati. Apakah banyak yang merasa kita lalui&#8230;? Apakah pada saat kita melalui sesuatu tersebut kita berjalan sendiri? Apakah kita memang menginginkan sesuatu? Sampai kita lupa dan nggak mau tahu apa yang sedang kita lewati, kita nggak tahu apakah kita telah mengganggu yang lain. Apakah perjalanan kita mulus&#8230;</p>
<p>To be continued&#8230;!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpha-delta.blog.friendster.com/2006/11/jalan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
